Selasa, 07 Januari 2014

Pembantaian Terbesar Sepanjang Sejarah Modern Dunia Ada di Indonesia


Dunia mencatat pembantaian 1965-1966 terhadap anggota dan simpatisan PKI sebagai salah satu peristiwa paling biadab dalam sejarah modern. Tapi, di negerinya sendiri, peristiwa itu lenyap dari buku teks sejarah dan diskusi publik. (Ariel Heryanto)

Menjelang tragedi G30S, konflik Partai Komunis Indonesia (PKI) dan partai politik lain kian memanas. PKI yang merasa diatas angin menekan penduduk yang berlawanan aliran dengan komunis. Namun, keadaan langsung berbalik saat Presiden Sukarno meandatangani Surat Perintah Sebelas Maret yang isinya memberikan mandat kepada Mayor Jendral Suharto untuk memulihkan keamanan. Mulai dari Supersemar yang ditandatangani oleh Sukarno dalam keadaan terdesak inilah pelanggaran HAM berat terjadi di Indonesia.

Oleh Suharto, PKI dinyatakan terlarang mulai 12 Maret 1966. Sehari sebelumnya, PKI masih merupakan partai sah dan terbesar di Indonesia, dan partai komunis terbesar ketiga di dunia. Tapi, pada tanggal itu, ratusan ribu warga Indonesia sudah terbunuh dengan tuduhan mendukung PKI. Terakhir diduga korban pembantaian ini mencapai tiga juta orang. Memang bukan angka yang pasti, karena banyak juga kepentingan dari penyebutan jumlah korban ini.

Buku yang merupakan hasil dari investigasi Tempo ini hadir dengan nuansa yang berbeda dari buku-buku tentang tragedi G30S yang sebelum-sebelumnya ada. Jika sebelumnya buku-buku yang kita temui kebanyakan mengangkat sisi kesalahan dan bahaya PKI, buku ini justru mengangkat PKI sebagai korban dan menggambarkan tragedi G30S dari sisi pelaku penumpasan orang-orang yang mendukung PKI.

Dengan deskripsi yang jelas pada setiap bab nya buku ini menghasilkan kengerian saat membacanya. Bagaimana cara jagal-jagal membunuh orang-orang PKI digambarkan dengan jelas tanpa memperhalus kata-katanya. Membacanya, anda harus siap terbayang-bayang badan tanpa kepala dibuang ke jurang, atau kepala-kepala tanpa badan berserakan di ladang-ladang. Karena kebanyakan inilah cara-cara yang digunakan para algojo-algojo ketika menumpas PKI, dengan menebas kepalanya.

Dari tiap-tiap bab yang dihadirkan dalam buku ini memberikan kisah yang berbeda-beda dari algojo-algojo yang berbeda dan dari daerah yang berbeda pula.

Pembunuhan masal tak hanya terjadi di Jawa dan Bali, tapi juga di daerah-daerah lain yang ikut tersulut api pembantaian dari Jawa dan Bali. Bersamaan dengan itu para algojo bermunculan mengatasnamakan dendam pribadi, keyakinan, atau tugas negara.

Seorang algojo dari Lumajang, Mochamad Samsi bercerita. Ia mendengar ada intruksi dari Nahdlatul Ulama (NU) untuk menumpas PKI. Samsi yang kala itu merupakan anggota Barisan Ansor Serbaguna ( Banser) sering mengikuti rapat-rapat yang dihadiri kiai NU hingga ia diangkat sebagai ujung tombak penumpasan PKI di Lumajang. Pembunuhan pertamanya ia lakukan atas perintah seorang Tentara Nagkatan Darat (TNI) yang ia lupa namanya. Pada pembunuhan pertama tersebut ia membunuh terduga PKI dengan memukulnya berkali-kali menggunakan rotan hingga mati, setelah dipastikan mati, mayatnya ia buang ke tepi laut agar terseret arus. Sejak pembunuhan pertama itu, berturut-turut ia membantai orang-orang PKI hingga ia pun lupa sudah berapa banyak nyawa yang ia habisi. Biasanya orang-orang yang akan ia habisi didatangkan entah dari mana menggunakan truk pada malam hari. orang-orang tersebut dibunuh dan mayatnya dibuang ke laut.

Ia juga pernah mendengar ada seorang saudagar kaya di Lumajang yang dianggap PKI. Samsi langsung mencegatnya di jembatan. Saat terduga PKI tersebut muncul, langsung saja ia tebas lehernya hingga terpisah dengan badanya. Lalu mayatnya ia lemparkan ke bawah jembatan. Kini 47 tahun telah berlalu sejak tragedi G30S. “Saya tidak pernah menyesal melakukan semua itu”, kata Samsi.

Selain Samsi, ada juga Burhan Zainuddin Rusjiman yang dijuluki Burhan Kampak. Kebenciannya terhadap PKI sudah tertanam sejak ia mahasiswa. Saat itu ia pernah memasang poster menuntut dibubarkannya organisasi mahasiswa di bawah PKI. Karena itu ia lantas dikeluarkan dari Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada serta dikejar-kejar oleh mahasiswa pendukung PKI.

Kebenciannya bisa ia lampiaskan saat mendengar MUI menyatakan PKI adalah ateis. Perang terhadap PKI gencar ia lakukan di Yogyakarta. Operasi pembersihan komunis ini kerap ia lakukan bersama tentara. Dengan posisi sebagai staf satu Laskar Ampera Aris Margono dari Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia “ saya punya license to kill,” kata Burhan. Bersama sepuluh orang lainnya ia diberi pistol dan pelatihan menembak.

Tak hanya kisah dua orang algojo di atas. Kisah dari algojo-algojo lainnya juga banyak diangkat dalam buku ini. Termasuk seorang Anwar Congo, seorang algojo PKI yang berasal dari Medan. Anwar juga berperan dalam fiml The Act of Killing karya sutradara Joshua Oppenheimer yang nampaknya begitu dibanggakan dalam buku ini.

           Ditulis oleh tim investigasi pembantaian 1965, buku ini bisa memberikan deskripsi yang baik tulisan narasinya. Membacanya kita seolah sedang menyaksikan tragedi G30S. Meski begitu. Masih saja ada yang lolos dari penyuntingan. Diberbagai bab banyak sekali ditemukan tanda baca koma yang tertukar dengan tanda tanya. Meski  terdiri dari banyak bab yang semuanya berbeda kisah, tak banyak pula pengulangan informasi yang dituliskan.

Nampaknya selain mendokumentasikan sejarah, rekonsiliasi juga merupakan tujuan dari buku ini. Rekonsiliasi yang diawali dengan pengakuan jujur dari para pelakunya. Tujuan tersebut bisa dilihat dari isi buku yang semuanya mengangkat dari sisi pelaku pembantaian hingga korban jiwa yang masih diperkirakan mencapai tiga juta orang. Seolah ingin mengungkapkan, tak hanya PKI yang salah, pembunuh orang-orang PKI yang banyak itu juga melanggar HAM. Namun, setelah membacanya kesuliatan rekonsiliasi jelas terlihat saat penjagal-penjagal itu merasa apa yang mereka lakukan dulu adalah sebuah tindakan heroik untuk membela negara. Bukan perasaan bersalah.

Judul               : Pengakuan Algojo 1965
Penulis             : Kurniawan et al.
Penerbit           : TEMPO Publishing
Halaman          : 178 halaman
Tahun Terbit    : 2013


                                                                                                                     

2 komentar:

  1. ngeri ngebayanginnya. kata kakek saya dulu waktu penumpasan PKI sungai brantas punuh dgn mayat yg mengenaskan, tanpa kepala, tanpa tangan/kaki.

    BalasHapus